Senin senja, 05:00
Di atas atap rumah merah marun, rasa itu tak kunjung lalu. Resah
Indah langit berubah menjadi jingga. Gumpalan awan merah muda terbenang luas dilangit.
Matahari perlahan tenggelam selalu terlihat manis. Raut mukaku samar begitu halus, tersusul bayangan gelap yang nampak begitu tajam.
"
Sepi sunyi tak perlu semua, Cari atau tidak mencaricari sama aja membosankan. sangat tak berguna ."
Udaraku hirup panjang, merasuk dalam rongga paruku. Pikiran tak lepas dari kalimatnya itu.
Pahit sepahit ampas kopi siang tadi. Panas seperti suhu udara sekitar.
"Dan lalu......" Kupejamkan mata, membiarkan alunan musik pelan itu terdengar keras dijagat raya mewakilkan teriakanku berteriak lepas mencari tempat berteduh dikala rindu.
Sakit, Munafik, dan Dusta. Semua menghantui pada sandiwara yang sama, pada sosok gadis jelaka seperti hantu masa lalu yang terus menarik anganmu keras untuk kembali dan mengutukmu seperti boneka. Pikirmu merona dan isak tangis menggalir, membuat aku tak habis pikir untuk berkata.Itu yang kau sebut bahagia? dan menjebakku masuk kedalam rekayasimu dengan permainan waktu,perkataan, dan tingkah laku seolah olah semua hanya bayangan indahku sendiri, pelariankah? 100 cara untuk membuat kau terbebaskan, 1000 cara menyembunyikan rasa sakit sendiri, apa daya tak penting baginya.
"yet so close, but just like a wind. you fade away."
Matahari terbenam akan menjadi sangat indah dirasa, bagi mereka yang bersedih. Dan bagiku yang mempunyai perasaan utuh untukmu
dan lalu.............
:')